utaratu

Home » UCUP » Berpisah: Kisah Sepotong Tahu

Berpisah: Kisah Sepotong Tahu


Taipei, 14 Januari 2014. Suasana winter masih menyelimuti Taipei. Dalam kegelapan malam yang masih baru dimulai, rombongan muslimah Utaratu mulai berdatangan memadati Longue Dorm 1. Hari itu memang sedikit berbeda, ada yang sedang ‘berduka’. Dan rombongan muslimah itu juga membawa segunung lautan tahu untuk disantap sebagai tanda perpisahan.

10 11 12Berbeda dengan kegiatan UCUP [A cup of ukhuwah tea] pada edisi sebelumnya, UCUP kali ini lebih terasa ‘sedih & pedih’ daripada tawa dan sukanya. Sengaja memang pada edisi kali ini adalah spesial untuk perpisahan.😦

Sesuai dengan hasil keputusan bulan lalu, UCUP edisi Januari ini digawangi oleh Kamar 410 yang terdiri dari Bu Nani, Indhira, Yunafi’atul, Amirinnisa, Rella, dan juga Nur Mayke. Cukup kompak ke-6 panitia mengemas acara dengan apik dan menarik.

5 6 7

Singkat cerita, acara dimulai dari pukul 19.30. MC oleh Amirinnisa (Icut) dan tilawah Qur’an oleh Yuna. Tanpa cas-cis-cus lebih lama, acara langsung dimulai dengan games. Peserta yang sejumlah 28 orang dibagi ke dalam dua tim. Masing-masing tim yang berbeda itu berkumpul menjadi satu dan tersusun secara selang-seling. Acara dipandu oleh Rella dan Icut.

Peserta games mendengarkan dan menyimak dengan serius. Karena kedua kubu sama-sama ingin menjadi pemenang. Dan aturannya adalah sangat simpel dan mudah. Dengan berbekal bola tenis peserta yang mendapatkan/ menangkap lemparan akan menyebutkan satu kata yang berkaitan dengan kata sebelumnya. Dan bola tidak boleh dilempar ke anggota grup alias harus ke anggota grup yang lain.

Meski terdengar simpel, nyatanya pada awal permainan harus diulang beberapa kali karena peserta kurang bisa fokus dan menangkap bola dengan baik.🙂

Misalnya adalah ketika sang pemegang bola pertama menyebutkan kata “Kuda” maka bagi peserta yang menangkap bola akan mengatakan kata yang berkaitan dengan kata pertama. Bolehlah kita menyambungnya dengan kata “lari”. Lalu bola diayunkan ke peserta ketiga dan disambung dengan kata “kencang”. Susunannya adalah Kuda-Lari-Kencang. Begitu seterusnya hingga si pemegang bola tidak bisa menjawab dan tidak berkutik!

Peserta yang tidak bisa menjawab harus dengan lapang dada meninggalkan “turnamen” dan menjadi penonton. Permainan memang seru dan sangat menegangkan. Seru karena semua peserta yang masih tersisa dan penonton sama-sama histeris dengan tangkap-menangkap bola. Tegang karena memang kata yang diucapkan susah-susah gampang untuk dilanjutkan. Dan terkadang menjadi ‘kontroversi’karena kata selanjutnya kurang logis dan masuk akal. Hehe😀

Waktu yang dibutuhkan untuk permainan pertama ini lebih kurang 40an menit. Terhitung mulai awal persiapan permainan, debat-tertawa, permainan sesungguhnya hingga ending. Dan pemenangnya adalah tim ganjil. Tip genap harus tetap semangat dan berlapang dada atas kekalahan. Jangan lupa untuk balas dendam!🙂

Menginjak permainan kedua. Hampir sama dengan permainan pertama. Masih dilakukan dalam tim. Namun  bedanya jenis games kedua ini melibatkan indera pendengaran dan juga penglihatan. Peserta diwanti-wanti untuk menjadi pendengar dan penyimak yang baik.

Pasalnya pada permainan kedua ini memang dituntut untuk bisa menjadi pendengar dan penggambar yang baik!

Tiap kelompok berada dalam posisi yang berbeda. Grup satu berkumpul dengan anggotanya, begitu juga dengan grup dua. Posisi duduk tidak membentuk lingkaran, akan tetapi membentuk posisi duduk “ular”. Satu sama lain tidak saling berhadapan. Dan peraturannya memang peserta tidak boleh menoleh ke belakang.

Instruksinya adalah panitia akan membisikkan satu kata yang merupakan deskripsi dari sebuah benda. Misalnya saja “persegi dengan sisi sama warna merah dan tengahnya tertulis kata persegi dengan warna kuning”. Maka mulai dari peserta yang posisinya paling dekat dengan “sumber” berita hingga peserta paling ujung harus mendapatkan informasi yang sama. Dan tugas dari peserta terakhir adalah menggambarkan deskripsi kata-kata tadi.

Pada keseharian kita juga sering melakukan hal ini, terlebih dunia wanita yang dekat dengan ghibah atau gosip. Terkadang informasi yang kita terima tidak sama persis dengan kejadian nyata yang sebenarnya, ada kurang dan lebih. Jika si pembawa berita ini tidak jujur, bisa jadi berita yang dibawa malah diputarbalikkan dari fakta yang ada.

Benar memang. Tidak semua kata yang diterima oleh penerima berita pertama sampai dengan ‘mulus’ di telinga peserta terakhir. Nyatanya masih ada selisih kata atau kriteria yang kurang. Permainan dilakukan dua kali dan pemenangnya adalah grup pertama. Bravo bisa menambal kekalahan!🙂

Puas dan sedikit lelah dengan dua permainan yang cukup menguras energi. Peserta dimanjakan oleh keberadaaan cencu dan juga tahu petis+genjrot yang sudah sengaja disiapkan oleh panitia kamar 410. Menu yang spesial dan sangat jarang ada di bumi Formosa. Setidaknya kenang-kenangan tahu genjrot versi 410 ini bisa jadi inspirasi.

Tidak hanya itu, 410 juga menyediakan hungto untuk disantap. Sambil menyantap hidangan yang telah tersedia, juga diputarkan film dokumenter singkat.

Sangat lengkap memang. Perut kenyang hati senang!🙂

Penghujung acara panitia sengaja memberikan acara kejutan. Setiap peserta diberi kesempatan untuk menuliskan cita-citanya. Setidaknya ada tiga pertanyaan “basic”. Dan pertanyaan ini harus diisi dengan sejujur-jujurnya tanpa ada kebohongan dan rekayasa:

Saya ….[nama peserta]menyatakan bahwa:

(pertanyaan untuk yang single)

  1. Akan menikah pada tahun …
  2. Apakah sudah punya calon atau belum
  3. Cita-cita

(pertanyaan untuk yang sudah menikah)

  1. Apakah sudah memiliki anak atau belum
  2. Berapa jumlah anak saat ini?
  3. Kapan rencana nambah momongan?

Pertanyaan-pertanyaan yang erat kaitannya dengan masa depan. Peserta harus menjawab dengan singkat dan jelas. Setelah itu kertas harus dilipat dan diberikan kepada muslimah yang paling ia percayai atau ‘dekat’ dengan membubuhkan nama penerima pada lipatan depan kertas.

Dan sesuai dengan pengalaman penulis reportase yang mendapatkan 3 buah surat “cinta”. Pengirim surat memang menulis dengan sangat jujur. Kembali semua peserta dengan dipimpin oleh Bu Nani dan Indhira selaku MC acara Surat Cinta ini mendoakan apa yang dituliskan musimah salihah agar diijabah oleh Allah SWT.

Tentunya ada banyak hal yang tersisa ketika kita akan berpisah. Ada suka,duka, tawa, dan canda yang sudah terukir dalam kebersamaan. Untuk ‘melepaskan’ teman-teman yang sudah lulus, panitia 410 meminta untuk mengucapkan pesan-pesan terakhir yang dimulai dari Maisyah, Tata, Nila, Laili, dan Yuna.

Acara belum berhenti sampai di situ. Rupanya masih ada acara ‘kecil’ yang lain yang membuat peserta sedikit terkejut. Kejutan terakhir adalah hadiah. Peserta diminta mengambil satu buah kertas kecil yang bertuliskan nomor hadiah. Masing-masing mendapatkan satu kertas. Tentu hadiahnya berbeda-beda sesuai dengan “keberuntungan” masing-masing.

Terakhir acara ditutup doa oleh Mbak  Nikmah dan diakhiri dengan foto-foto bersama. Semoga pertemuan yang telah dimulai ini tidak terputus pada hari ini, akan tetapi masih ada kesempatan untuk berjumpa pada hari dan di belahan bumi yang lain. inshaAllah. [Laili]

1 2 3 4 8 9 13 14 15 17 18 20 21 22 23 24 25


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: