utaratu

Home » Taushiyah » Kajian Muslimah (KAMUS) » Memilih Pasangan Idaman

Memilih Pasangan Idaman


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS Ar Rum: 20-21]

Taipei 6 Desember 2013- Awal bulan Desember sengaja dipergunakan Kemuslimahan Utaratu untuk mengadakan Kamus [Kajian Muslimah]. Event kajian bulanan ini diharapkan bisa menyegarkan kembali ukhuwah dan juga ajang untuk berbagi ilmu. Dan sama seperti edisi sebelum-sebelumnya, Kamus yang diadakan di Kamar 410 Dorm 3 ini dihadiri oleh 12 muslimah yang sudah siap menjadi pendengar. Sayang memang, pada Kamus kali ini memang pelaksanaannya bentrok dengan agenda yang lain.😦

Topik sudah dipilih dan ditentukan: Memilih Pasangan Idaman. Tema Pernikahan masih menjadi hot issue yang memang selalu seru dan tidak ada habis-habisnya untuk dikupas. Berbekal pengalaman pribadi, sang pembicara Aisyah Iadha Nuraini sengaja didapuk sebagai “sang guru” dan Ilma Mufidah sebagai sang moderator. Selain memang sudah menikah, Aisyah adalah salah satu mahasiswi NTUST yang kuliah bersama sang suami yang sama-sama menempuh study master di kampus ini. meski pernikahan mereka tergolong baru, tapi tentu saja banyak ilmu yang bisa digali!🙂

DSC_0094

Untuk mengetahui lebih lanjut apa dan bagaimana yang terjadi selama Kamus kemarin, silakan lanjut terus membaca tulisan reportase ini!

Menikah, Mengikuti Sunnah Sang Nabi SAW & Manfaatnya

Sebelum membicarakan bagaimana kisah Aisyah menikah, kembali pendengar dan penyimak diingatkan jika menikah adalah salah satu bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Juga banyak yang masih  belum mau atau enggan menikah karena memang juga belum banyak yang faham tentang fadhilah atau keutamaan dari menikah itu sendiri.

Manfaat menikah:

a)      Menyempurnakan Setengah Agama

 “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW memberikan penjelasan jika menikah itu adalah menyempurnakan setengah dien atau agama. Dan setengahnya lagi kita tinggal  menjaga yang lainnya.

Mengapa Rasulullah SAW begitu menganjurkan umat atau pengikutnya untuk menikah? Karena pada dasarnya manusia memiliki masalah yang sangat besar dari kedua hal yang ada pada tubuhnya: perut dan kemaluan. Perut akan mengantarkan pada keserakahan atau tamak, sedangkan kemaluan akan mengantarkannya pada zina. Dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.

Al Mula ‘Ali Al Qori rahimahullah dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakwalah pada separuh yang lainnya”, maksudnya adalah bertakwalah pada sisa dari perkara agamanya. Di sini dijadikan menikah sebagai separuhnya, ini menunjukkan dorongan yang sangat untuk menikah.

b)      Menikah akan membuat seseorang lebih merasakan ketenangan

Al Mawardi dalam An Nukat wal ‘Uyun berkata mengenai ayat tersebut, “Mereka akan begitu tenang ketika berada di samping pendamping mereka karena Allah memberikan pada nikah tersebut ketentraman yang tidak didapati pada yang lainnya.” Sungguh faedah yang menenangkan jiwa setiap pemuda.

c)      Jangan Khawatir, Allah yang akan mencukupkan rizki

Dari segi finansial sebenarnya sudah cukup, namun selalu timbul was-was jika ingin menikah. Was-was yang muncul, “Apa bisa rizki saya mencukupi kebutuhan anak istri?” Jika seperti itu, maka renungkanlah ayat berikut ini,

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Juga di dalam riwayat lain, Ibnu Mas’ud berkata:

Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.”

d)      Orang yang menikah berarti menjalankan sunnah para Rasul

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar Ra’du: 38).

e)      Menikah lebih akan menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan

Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah[1], maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400). Imam Nawawi berkata makna baa-ah dalam hadits di atas terdapat dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna, yaitu sudah memiliki kemampuan finansial untuk menikah. Jadi bukan hanya mampu berjima’ (bersetubuh), tapi hendaklah punya kemampuan finansial, lalu menikah. Para ulama berkata, “Barangsiapa yang tidak mampu berjima’ karena ketidakmampuannya untuk memberi nafkah finansial, maka hendaklah ia berpuasa untuk mengekang syahwatnya.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim)

f)       Untuk memperoleh keturunan

Menikah bukan sekadar mematahkan hawa nafsu dan menjaga kehormatan. Namun salah satu tujuan mulia dari sebuah perkawinan adalah untuk memperoleh keturunan yang shalih dan shalihah, yang berjuang di jalan Allah. Jagalah anak-anak Anda, bahkan sebelum kehadirannya Anda rasakan.

Bagaimana Memilih Pasangan Ideal?

Mengenai pilah dan pilih pasangan hidup, Rasulullah SAW memberikan guideline yang sangat jelas kepada kita semua:

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sama halnya dengan wanita saat menerima pinangan dari seorang laki-laki. Maka agama adalah faktor yang harus dipertimbangkan dengan matang. Bukan dari segi kekayaan, ketampananan, atau kedudukannya yang tinggi. Maka baik laki-laki ataupun perempuan memiliki guideline yang equal dan jelas: agama!

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Jelas sudah, jika ketaqwaan adalah hal mutlak penilaian manusia di mata Allah Ta’ala. Bukan dari segi kedudukan, derajat, harta, maupun ketampanan atau kecantikan secara fisik. Allah menilai manusia dari ketaatannya.

Dan ketika menikah, kita tidak bisa membuatnya seperti sebuah permainan. Menikah adalah hal yang serius. Bukan gurauan atau sesuatu yang bersifat candaan. Meskipun main-main, jika syarat dan rukun pernikahan terpenuhi bisa menjadi sah dan halal hukum pernikahan ‘mainan’ tersebut. Karenanya kita sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam menggunakan ijab qabul pernikahan tersebut.

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai, dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Sama dengan menikah, talak atau cerai juga berlaku demikian. Meskipun hanya bercanda, suami yang men-talak istrinya, maka hukumnya adalah jatuh talak. Ini dimaksudkan agar kita berhati-hati dalam menggunakan kalimat atau bahasa talaq dan yang berhubungan dengannya.

Berbagi Kisah saat Menikah

DSC_0106 DSC_0083 DSC_0099

Aisyah menuturkan perihal pernikahannya dengan Anton, sang suami. Sesuai dengan cerita langsung dari si pelaku, pernikahan Aisyah sifatnya sangat ‘mendadak’. Karena tidak ada hubungan yang spesial antara Aisyah dan juga suaminya. Sang suami hanya dikenal sebagai seorang senior saat masih sama-sama kuliah di Universitas Indonesia.

Pertemuan dengan keluarga Aisyah juga hanya dilakukan beberapa kali. Dari pertemuan singkat itu, sang suami mantab untuk meminang Aisyah. Tentunya dengan berbagai pertimbangan yang telah dilakukan sebelumnya.

Kala itu, sang suami masih belum mengantongi ijazah dan juga pekerjaan yang tetap. Sebagai seorang ayah, wajar jika ketika ada seseorang yang melamar anaknya, sang ayah akan bertanya macam-macam. Yang pasti berfokus pada hal yang bersifat materi. Bukan untuk mencari kesenangan atau dunia, tetapi hal itu juga penting untuk kelangsungan hidup setelah menikah.

Nampaknya sang pelamar memang sudah siap jika akan dibombardir dengan pertanyaan tersebut. Tanpa ada sebuah ketakutan dan keraguan, si pelamar menjawab dengan mantab: “Jika ada seseorang yang ingin menikah, maka Allah akan mempermudah jalannya.” Argumen yang tak terpatahkan! Mendengarkan jawaban itu, si ayah hanya diam. Tanda setuju!🙂

Lain halnya dengan yang dilamar, Aisyah kala itu mengajukan satu pertanyaan:

“Di manakah Allah berada?”

Sebuah pertanyaan yang susah-susah gampang. Mungkin banyak dari kita yang akan menjawab: “Allah ada di mana-mana!”

Dan lagi-lagi si pelamar menjawab: “Allah ada di atas Arsyi!”

Puas sudah hati Aisyah. Sang pelamar berarti sudah membaca Al Quran.

Dan proses penentuan keputusan iya dan tidak, hanya diberikan dalam waktu 3 hari saja. Setelah melalui beberapa proses; istikharah, meminta pendapat orang tua, dan juga menyelidiki si calon melalui 3 orang teman terdekat si pelamar. Aisyah sendiri menyarankan untuk senantiasa membaca doa istikharah ketika seusai solat wajib dan solat sunnah.

“Hal ini sangat penting…” imbuh Aisyah. Dengan menyelidiki dari teman yang paling dekat, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan pribadi si pelamar. Tentu hanya teman terdekat yang mengetahui bagaimana habit atau kebiasaan darinya.

Mengenai walimah atau pesta. Memang kebanyakan dari anak muda jaman sekarang akan enggan atau menganggap itu adalah hal yang tidak penting. Tapi lagi-lagi Aisyah memberikan masukan, jika walimah adalah “agenda” dari orang tua. Dengan kata lain walimah adalah acara dari orang tua. Sehingga dalam prosesi ini murni jika diadakan walimah ini adalah untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Kisah lengkap proses lamaran hingga pernikahannya bisa dibaca di blog ‘pribadi’ mereka : http://antonaisyah.wordpress.com/🙂

Pertanyaan?!

Apakah menikah harus dengan cincin emas?

Mungkin kita masih bertanya-tanya, apa memang menikah itu si pengantin pria atau wanita harus mengenakan cincin emas? Ada kesalahan persepsi yang sudah menjamur di masyarakat kita. Di mana saat menikah seorang pasangan ‘harus’ bertukar cincin. Atau jika sudah bercincin meski belum ijab qabul dianggap sudah sah.

Rasulullah SAW sendiri mengharamkan dua hal atas kaum lelaki: emas dan sutera. Maka sudah jelas jika haram hukumnya seorang pria mengenakan sesuatu yang terbua dari kedua hal tersebut. Apalagi jika pada saat pernikahannya tukar-menukar cincin emas dengan calon istrinya.

Menikah harus dengan pesta mewah?

Menilik hadits Rasulullah SAW bahwa memang sunnah untuk mengumumkan atau mengadakan walimah, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing. Makna dari anjuran atau sunnah Nabi SAW itu adalah menyiarkan atau mengumumkan berita pernikahan agar terhindar dari fitnah. Bukan bertumpu pada pesta mewah yang serba wah dan glamor.🙂

Mahar, haruskah ada syarat-syarat tertentu?

Jawabnya singkat: tidak ada. Kesalahan yang beredar di lingkungan kita adalah ketika si calon pengantin wanita memberikan persyaratan tertentu sebagai mahar. Yang terkadang malah memberatkan si calon suami untuk memenuhinya.

Mahar yang baik adalah yang paling sedikit. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya wanita yang paling banyak berkahnya adalah wanita yang paling sedikit/murah mas kawinnya.”

Jangan Ragu untuk Menikah!

Dan jika masih ada keraguan untuk menikah, maka hapuskan keraguan itu. Jika masih ada ketakutan, lenyapkanlah! Karena ketakutan dan keraguan itu adalah bisikan halus dari setan untuk melumpuhkan amal kebaikan yang akan kita lakukan.

So, tunggu apa lagi. Mantabkan hati untuk mengikuti sunnah Sang Nabi!

Wallahu a’lam. [Laili]

IMG_20131208_090256 IMG_20131206_100908

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: