utaratu

Home » Taushiyah » Kajian Muslimah (KAMUS) » Istiqamah: Dulu, Sekarang, dan Nanti

Istiqamah: Dulu, Sekarang, dan Nanti


Taipei, 26 Oktober 2013. Hawa musim dingin sudah mulai terasa. Samar-samar hampir semua orang yang tinggal di Taipei sudah mulai mengenakan baju tebal satu demi satu. Pun mahasiswa yang juga menetap di dorm NTUST. Perkenalan hawa dingin disambut hangat oleh Kemuslimahan Utaratu dengan mengadakan kajian 2 pekan sekali; KAMUS atau yang juga dikenal dengan Kajian Kemuslimahan.

Tepat sekitar pukul 16.30 Kajian Muslimah dimulai. Kamar 410 tetap dipilih sebagai markas besar Kamus yang sudah turun-temurun lintas generasi. Seperti pada edisi-edisi sebelumnya, pada setiap edisi pasti memiliki tema khusus. Nah, untuk edisi kali ini tim kemuslimahan memilih “Istiqamah”. Mengapa Istiqamah dan apakah Istiqamah itu? Untuk mengetahui semua pertanyaan dan tanda tanya, Mbak Yatim Lailun Nikmah sengaja diundang untuk menjadi pemateri sekaligus menjelaskan makna dan serba-serbi Istiqamah.

1

Dengan apik Mbak Nikmah atau yang juga dikenal dengan Bu Nyai Nikmah menjelaskan pengertian Istiqamah dari akarnya. Sehingga kita tidak hanya saja tahu atau mengenal istilah Istiqamah tanpa tahu apa maksud dan maknanya. Peserta kamus yang terdiri dari 14 orang menyimak dengan antusias dan khusyu’.

2

3

4

5

6

7

Penjabaran dimulai dari apa itu Istiqamah. Tentunya kata istiqamah ini sangatlah tidak asing di telinga kita. Apalagi kita yang sering menggunakan istilah tersebut untuk dikaitkan dengan ibadah maupun amal saleh. Sesuai dengan penjelasan Mbak Nikmah, Istiqamah berasal dari Bahasa Arab. Tepatnya berasal dari kata “qaama” yang apabila diartikan secara bahasa adalah berdiri. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Sedangkan dalam penjabaran yang lebih luas lagi, ada beberapa pendapat Khulafaur Rasyidin, sahabat Nabi SAW, serta ulama salafus salih tentang pengertian Istiqamah itu sendiri. Secara terminology, istiqomah bisa diartikan dengan beberpa pengertian berikut ini;

 Abu Bakar Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab; bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)

– Umar bin Khattab r.a. berkata: “Istiqamah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipu musang”

– Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqamah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah SWT”

– Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”

 Hasan Bashri berkata: “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”

– Mujahid berkata: “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah SWT”

 Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepaada-Nya tanpa menengok kiri kanan”

Sedangkan dalil naqli yang berkenaan tentang istiqamah ini termaktub dalam Al Qur’an Surah Al Ahqaf ayat 13-14:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka mereka akan dibebaskan dari rasa takut dan kesedihan. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Dan juga hadis Nabi SAW:

Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Maka sesungguhnya istiqamah ini adalah perkara yang besar namun berbalut bungkus yang terlihat kecil. Mbak Nikmah memberikan contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari, mengaji misalnya. Ada sebagian orang yang mengaji 3 atau 4 juz mungkin dalam sehari. Untuk selanjutnya dalam 5 hari ke depan, ia tidak mengaji. Hal ini bukan termasuk istiqamah, meskipun hal ini baik. Akan lebih baik lagi jika kita mengaji 3 halaman tetapi konsisten kita lakukan setiap hari. Hal ini akan jauh lebih bernilai di mata Allah SWT. Kenapa? Karena kita istiqamah melakukannya. Amalan sedikit/ kecil, tapi dilakukan dengan istiqamah akan bernilai besar!

Susahnya istiqamah ini membuat banyak orang merasa tertantang sekaligus mundur. Tertantang karena kita memang “ditantang’ untuk bisa konsisten melakukan kebaikan. Mundur, karena kita tidak kuasa lagi mempertahankan kebaikan yang kita lakukan. Ada banyak godaan yang membuat istiqomah ini hilang dari diri kita. Karenanya diperlukan hal-hal untuk mempertahankan keistiqmahan dalam melakukan baikan dan amal saleh dari dalam diri kita sendiri. Berikut tips-tips untuk menjaga agar kita senantiasa istiqamah:

1. Mengikhlaskan niat saat melakukan amalan-amalan ketaatan

Inilah pintu utama, yaitu pintu yang dapat mengantarkan seseorang untuk dapat istiqamah dalam hidupnya sehingga ia dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan bahagia.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Tuhannya dengan seorangpun dalam melakukan ibadah kepada-Nya”. (Al-Kahfi: 110)

2. Berdo’a kepada Allah agar diberikan keistiqamahan

Saudaraku, do’a adalah senjata seorang muslim yang paling ampuh. Oleh karena itu hendaklah seorang muslim banyak berdo’a kepada Allah agar diberikan keistiqamahan.Dai antara do’a yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku untuk selalu berada di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi, no 2066. Ia berkata: “Hadits Hasan”)

3. Menanamkan keyakinan dan mengingat-ingat tentang balasan yang akan diraih bagi orang yang istiqamah

Istiqamah adalah perkara yang membutuhkan perjuangan besar, tentunya orang yang dapat istiqamah akan mendapatkan balasan yang besar sebagai balasan atas usaha yang dilakukannya. Allah berfirman (yang artinya):

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka mereka akan dibebaskan dari rasa takut dan kesedihan. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqof: 13-14)

4. Memilih teman yang baik

Sudah sering kita dengar hadits yang masyhur dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gambaran teman yang baik dan teman yang buruk, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan teman yang baik sebagai penjual minyak wangi dan teman yang buruk sebagai tukang pandai besi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“ Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Tentang si penjual minyak wangi, kalau engkau tidak membeli minyak wanginya maka engkau akan medapatkan bau wanginya. Adapun tentang si tukang pandau besi, kalau engkau atau bajumu tidak terbakar maka engaku akan mendapatkan bau yang tidak enak.” (HR. Bukhori, no 1959)

5. Banyak membaca sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang shalih.

Dengan banyak membaca sirah, diharapkan kita akan  bisa memetik banyak hikmah yang terkandung di dalam kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW dan juga sahabat. Dari cerita mereka, kita hanya akan mendapati kebaikan dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala. Semangat mereka dalam menjaga keistiqamahan akan memberikan penyegaran dalam amal ibadah kita yang mungkin masih sangat jauh dari kata-kata istiqamah.

Selain ke-5 hal di atas, ada dua hal lain yang juga penting untuk menjaga keistiqamahan: Muhasabah dan juga Mu’aqabah. Muhasabah sendiri erat kaitannya dengan evaluasi atau introspeksi diri. Kita belajar untuk menilai dan merenungi apa-apa yang sudah kita lakukan serta kekurangan diri kita sendiri. Metode muhasabah ini sangat efektif untuk kita yang cenderung malas dan bebal terhadap dakwah. Sedangkan Muaqabah, sesuai dengan namanya, Mu’aqabah adalah adalah pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya. Atau kita juga mengenal istilah Iqab! Nah, dari sini kita belajar untuk “kejam” pada diri kita sendiri dalam melakukan kebaikan dan amal saleh. Sampai-sampai kita harus menghukum diri kita apabila kita tidak melakukannya atau lalai.

Maka hanya kepada Allah SWT kita meminta perlindungan dan pertolongan, agar senantiasa memberikan sifat istiqamah di dalam jiwa kita. Melekatkan istiqamah dalam amal-amal kebaikan dan juga kesalihan kita. Semangat untuk memelihara istiqamah harus tetap kita nyalakan, sejak dulu, sekarang hingga masa mendatang.

دِينِكَ عَلَى قَلْبِى ثَبِّتْ الْقُلُوبِ مُقَلِّبَ يَا

“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [HR Tirmidzi]

Rabb, jaga hati kami, agar senantiasa istiqamah di jalanMu, jalannya orang-orang yang saleh serta ta’at pada perintahMu! Wallahu a’lam..

[Laili]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: