utaratu

Home » Uncategorized » Sehat ala Anak Rantau

Sehat ala Anak Rantau


30 Juni 2013– Tidak seperti biasanya, malam itu suasana kamar 410 Dorm 3 NTUST nampak meriah. Bukan karena ada pesta ulang tahun atau karena ada perayaan. Malam itu sangat spesial dan menjadi malam yang dinantikan muslimah NTUST.

FOTO KAMUS 4

Sekitar pukul 20.00 malam, momen yang dinantikan dimulai: KAMUS atau yang juga dikenal sebagai Kajian Muslimah. Acara dibuka oleh Laili kemudian dilanjutkan oleh Sryang Tera sebagai pembaca Al Qur’an. Surah yang dipilih adalah Surah Al Muzammil yang dibaca secara tartil. Tidak hanya membaca Al Qur’an dalam lafal arabnya saja, namun Sryang juga membaca saritilawah.

Menginjak ke acara inti, acara yang dinanti oleh semua audience, Kiswatul Hidayah, Mahasiswi Master TMU (Taipei Medical University) mulai menjelaskan tentang konsep makanan sehat. Sesuai dengan topik/ tema yang diangkat “Sehat ala Anak Rantau” Kiswah mulai memberikan gambaran apa dan bagaimana makanan sehat.

FOTO KAMUS 3

Berbeda dengan kondisi kita ketika berada di Indonesia, kondisi Taiwan sangatlah tidak ‘nyaman’ untuk mencari dan makan makanan secara sembarangan. Sebagai seorang muslim, kita harus selektif dalam memilah dan memilih apa yang akan kita masukkan ke dalam perut kita. Tentu yang halal dan thayyib.

Berawal dari kesulitan itu, mulai muncul kebiasaan yang kurang baik dalam hal jenis makanan yang dikonsumsi. Sebagai anak asrama yang notabene susah pangan dan pendapatan, banyak dari kita yang memilih mie instan sebagai solusi. Solusi ketika tidak ada uang dan juga solusi gampang untuk makan!

Kiswah mengupas tuntas mengenai kandungan gizi dan juga bahan apa saja yang ada di dalam mie instan. Memang kalau kita perhatikan secara lebih detail, mie instan ini ‘kurang baik’ jika dimakan terlalu sering. Terlebih kandungan gizi mie instan juga tidak mencukupi asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Lagi, isu yang beredar adalah ada zat lilin yang terkandung di dalam mie sebagai zat tambahan pengawet.

FOTO KAMUS 2

Fenomena mie instan memang marak di kalangan mahasiswa. Seperti ulasan di atas, mie instan juga tergolong makanan yang paling ekonomis. Plus memiliki sertifikat halal. Kita diperbolehkan mengkonsumsi mie instan asalkan menambahkan bahan makanan lain sebagai pelengkap. Karena kandungan mie adalah karbohidrat dan lemak, mie instan butuh sayur dan juga protein agar makin lengkap kandungan gizinya.

Beralih topik dari mie instan, yang juga tak kalah menarik adalah fenomena makanan seimbang. Mengapa? Point of interest dari topik ini bersinggungan dengan  berat badan. Salah satu masalah yang menjadi momok wanita!

FOTO KAMUS 5

Berat badan sangat erat kaitannya dengan penampilan. Dan wanita adalah salah satu pihak yang menomorsatukan urusan penampilan. Maka tak ayal jika saat Kiswah mengulasnya secara lebih detail, banyak peserta yang tunjuk tangan alias bertanya.

Berat badan dan seimbang adalah idaman setiap wanita, begitu kira-kira kesimpulan dari perbincangan Kajian Muslimah malam itu. Namun demikian masih banyak muslimah yang salah kaprah memaknainya. Banyak dari kaum hawa ini yang mendefinisikan berat badan seimbang sebagai kosakata dari makna langsing. Langsing dikaitkan sebagai tolok ukur ideal dan sehat. Kenyataannya, tidak seperti itu!

Berat badan seimbang, sesuai penjelasan Kiswah dipaparkan sebagai berat tubuh seseorang yang masih dalam batas ‘aman’. Aman disini dapat diartikan masih berada dalam batas indeks masa tubuh (IMT).

Bagaimana cara kita mengetahui IMT tubuh kita? Setidaknya dalam dunia gizi digunakan beberapa jenis metode. Dalam setiap metode terdapat hasil IMT yang merupakan nilai dari IMT tubuh. Dari nilai tersebut bisa kita lihat, apakah berat badan kita ideal atau tidak. Jika nilai IMT kita melebihi ambang batas normal, maka bisa dikatakan bahwa kita mengalami obesitas atau kegemukan. Bagi penderita obesitas ini kita harus memperhatikan kembali apakah kita mau menanggung resiko penyakit yang akan ditimbulkan akibat obesitas? Jika tidak, sesegera mungkin kita harus mengubah pola hidup!

Selain mengulas berat badan, olahraga juga menjadi topik hangat dalam Kajian Muslimah. Karena kebanyakan dari mahasiswa mengalami rutinitas harian yang monoton dan padat, banyak dari kita yang melupakan olahraga. Padahal, selain pola hidup dan pola makan makanan sehat, olahraga adalah salah satu penyokong kesehatan kita. Sekurang-kurangnya kita melakukan olahraga 30 menit setiap hari.

FOTO KAMUS 1

Sebagai penutup, Kiswah memberikan tips kepada wanita yang sedang hamil dan juga wanita belum hamil. Bahwa menjaga makanan atau asupan makan bagi wanita hamil sangatlah penting. Terlebih lagi ketika pasca kehamilan. Seorang ibu yang baru melahirkan atau dalam masa menyusui harus sangat selektif dalam mengkonsumsi makanan. Karena ia tidak hanya memberikan makanan untuk tubuhnya, tetapi juga makanan untuk buah hatinya.

Jaga kesehatan sedari sekarang! [Laili Fitriani]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: