utaratu

Home » Uncategorized » NIAT DAN IKHLAS

NIAT DAN IKHLAS


Taipei, FORMMIT Utaratu – Kamal bersama Ust. Eka Adi Prasetyo, Mushola NTUST, Jum’at, 28 Juni 2013

1044490_10200535542446807_2029265093_n

Secara bahasa, niat berarti sengaja atau sesuatu yang dimaksudkan atau tujuan dari keinginan. Sementara ikhlas berasal dari kata khalasha yang maknanya ialah kemurnian, kejernihan, atau hilangnya segala sesuatu yang mengotori. Sehingga secara istilah syara, ikhlas adalah membersihkan niat dalam beribadah semata-mata hanya karena Allah.

Tingkatan Niat:

  1. Menjadikan ridho Allah sebagai satu-satunya penggerak amal yang dikerjakan.
  2. Mengharap ridho Allah itu bercampur dengan tujuan lainnya yang bersifat duniawi namun masih dalam lingkup fillah (dalam rangka karena Allah SWT) pada penghujungnya. Namun tujuan-tujuan lain tersebut tidak boleh menyamai atau bahkan lebih besar daripada niat karena Allah.
  3. Niat untuk mencari ridho Allah yang bercampur dengan keinginan lain yang bersifat duniawi dan diluar dari lingkup fillah. Tingkatan ketiga ini adalah terlarang, niat yang bercampur dengan riya akan membatalkan pahala dari amal tersebut.
  4. Niat yang tidak ada di dalamnya harapan mencari ridho Allah atau memperoleh pahala, akan tetapi semata-mata mengejar kemanfaatan dunia. Niat seperti ini tidak memperoleh bagian pahala dari Allah, akan tetapi bila amalannya itu sesuai dengan sebab-akibat sunatullah yang Allah telah tetapkan, maka ia berkesempatan memperoleh manfaat dunianya saja.

 Beberapa hal yang bisa merusak keikhlasan, antara lain:

  1. Riya’ dan Sum’ah. Riya’ ialah melakukan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, sedangkan Sum’ah ialah beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas). Kedua hal tersebut dapat terjadi pada mereka yang berambisi untuk menjadi seorang yang terkenal atau dikagumi banyak orang.
  2. Ujub. ‘Ujub ialah merasa kagum terhadap diri sendiri. Manusia memang harus bangga terhadap dirinya, hal ini sebagai bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT. Namun jika rasa bangga tersebut beralih menjadi ‘Ujub, maka hal ini merupakan awal dari menyekutukan Allah dengan diri sendiri. ‘Ujub menjadikan pelakunya meyakini bahwa setiap keberhasilan yang didapatnya semata-mata karena kemampuan dan kehebatannya sendiri (peran Allah dianggap tidak ada). Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka pelaku dapat sampai pada tahap beramal tidak lagi diniatkan untuk Allah, melainkan untuk (kepentingan duniawi) dirinya sendiri.
  3. Menjadikan ikhlas sebagai wasilah (sarana), bukan maksud dan tujuan. Pernah Abu Hamid Al Ghazali menerima petuah bahwa barangsiapa yang berbuat ikhlas semata-mata karena Allah selama empat puluh hari maka akan memancar hikmah dalam hati orang tersebut melalui lisannya (ucapan). Abu Hamid berkata: “Maka aku berbuat ikhlas selama empat puluh hari, namun tidak memancar apa-apa dariku, lalu kusampaikan hal ini kepada sebagian ahli ilmu, hingga ada di antara mereka yang berkata: ‘Sesungguhnya kamu ikhlas hanya untuk mendapatkan hikmah, dan ikhlasmu itu bukan karena Allah semata.’”

Dilarang meninggalkan amal karena takut riya.

Seorang muslim tidak boleh meninggalkan amal hanya karena takut riya. Setan, pada satu kondisi berusaha menjerumuskan seseorang ke dalam riya untuk merusak amalnya. Dan pada kondisi yang lain memberikan was-was agar seseorang meninggalkan amal shalih karena takut riya. Karena itulah jika seorang muslim hendak/sedang beribadah lalu muncul perasaan riya dalam hatinya, maka ia harus menguatkan azam dan kembali meluruskan niat agar ikhlas kepada Allah SWT.

Amalan-amalan yang tidak termasuk riya antara lain:

  1. Imam An-Nawawi rahimahullah membuat satu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, Perkara yang dianggap manusia sebagai riya namun bukan termasuk riya. Beliau membawakan hadist dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya: Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia? Beliau SAW menjawab: Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin. (HR. Muslim)
  2. Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shalih sehingga lebih semangat dalam beribadah, dan hal ini tidak termasuk riya.
  3. Menyembunyikan dosa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya.
  4. Memakai pakaian yang bagus. Hal ini tidak termasuk riya karena termasuk keindahan yang disukai oleh Allah.
  5. Menampakkan syiar Islam. Sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi; seperti haji, umroh, shalat jamaah dan shalat jumat.

Hukum menyembunyikan amal.

Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al-Baqoroh: 271)

Rasulullah SAW bersabda: Tujuh golongan yang berada di bawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, yaitu (salah satunya ialah) seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amal kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab, dan bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya. (Fathul Bari)

Para ulama juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya.

Imam Al-Izz bin Abdus Salam menjelaskan hukum menyembunyikan amal kebajikan secara terperinci, sebagai berikut:

  1. Amalan yang disyariatkan untuk dilaksanakan dengan dinampakkan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam sholat secara jahr, khutbah-khutbah, amar maruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat wajib secara berjamaah, merayakan hari-hari ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, dan amal-amal lain sejenisnya, maka hal-hal tersebut tidak mungkin disembunyikan.
  2. Amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya antara lain seperti sholat sunnah Qiyamul Lail dan puasa sunnah.
  3. Amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan. Contohnya antara lain sedekah. Jika dia khawatir tertimpa riya atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakkan amalannya dia akan riya, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika dinampakkan.

Buah sikap ikhlas.

  1. Benteng dari godaan setan.
  2. Mengubah amal yang mubah menjadi bernilai ibadah.
  3. Memperoleh pahala meskipun amal kebaikan belum dilakukan atau diselesaikan.
  4. Pertolongan Allah di saat sulit.
  5. Hati yang tenang dan tenteram. Hati yang tenteram karena keikhlasan akan memunculkan manusia yang memiliki kekuatan jiwa, dengan ciri-ciri antara lain:
    • Sabar terhadap panjangnya jalan perjuangan, tidak terburu-buru dan tergoda untuk menempuh jalan pintas yang tidak berkah.
    • Istiqamah dalam memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan.
    • Setiap kegagalan disikapi dengan lapang dada, karena ia yakin bahwa selama ikhtiar sudah jalankan, maka Allah akan tetap memberi ganjaran di akhirat.
    • Merasa senang jika kebaikan terlaksana di tangan saudaranya, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
    • Berusaha membangun amal jamai, tidak bertujuan mengejar popularitas pribadi atau membesarkan kelompok tertentu semata, karena setiap apa yang dilakukan untuk meraih ridha Allah SWT maka tolok ukurnya adalah kemuliaan Islam dan umat Islam.
    • Menyadari kelemahan dan kekurangannya sehingga selalu mengevaluasi dan mewaspadai munculnya riya dalam dirinya.
    • Menjadikan keridhoan dan kemarahan karena Allah SWT, bukan karena pertimbangan pribadi.
    • Tidak menyesuaikan perbuatan semata-mata agar dikagumi atau tidak bertentangan dengan orang yang disukai/dihormati.
    • Tidak mengungkit-ungkit jasa yang pernah dilakukan atau mendendam karena perannya dilupakan.
    • Mengambil keputusan tidak semata-mata karena pencitraan atau mencari popularitas atau menyesuaikan dengan kehendak orang banyak, melainkan dengan berdasar pada hukum Allah SWT.

Keikhlasan harus dijaga bukan saja di awal amal, melainkan juga selama amal tengah dijalankan, dan juga setelah amal usai dilaksanakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: