utaratu

Home » Event » Sesederhana Tersenyum

Sesederhana Tersenyum


Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. 39:22)

Suatu siang (19 September 2012, red.) tampak berdiri menjulang beberapa tenda mengelilingi gedung-gedung di dalam kawasan kampus NTUST. Udara hari itu tidak terlalu panas, bahkan cenderung sejuk, mengingat satu atau dua bulan lagi memasuki musim dingin. Kebetulan, saya dan beberapa teman lain sedang menyiapkan satu stan di antara sekian banyak tenda itu.

Hari itu adalah bertepatan dengan acara penyambutan mahasiswa baru dari pihak NTUST dan setiap unit kegiatan mahasiswa mendapatkan tempat di sana, barangkali untuk mengenalkan kegiatan-kegiatannya. NTUST-International Muslim Students Association atau disingkat NTUST-IMSA adalah salah satu dari unit kegiatan di dalam kampus dan diakui legalitasnya. NTUST-IMSA sendiri tergolong baru berdiri, belum genap satu tahun. Dan di hari itu, kami dari pihak NTUST-IMSA memperoleh satu stan.

IMCE Pamflet

Kesempatan saat itu juga dimanfaatkan untuk memberitakan acara besar lain yang akan diselenggarakan oleh NTUST-IMSA, yakni, International Muslim Culture Exhibition (IMCE) yang mudah-mudahan bisa terselenggara di awal bulan November 2012. Minimal brosur-brosur sudah disebarkan kepada orang-orang yang lewat.

Mungkin apa yang dirasakan oleh Rasulullah saw. dulu jauh lebih berat, lebih terjal ketimbang apa yang saya alami di acara ini. Tidak ada lemparan batu, kotoran unta, cacian, apalagi sampai diusir dari kampung halaman. Tidak. Praktis saya dan teman-teman hanya menawarkan orang-orang lokal Taiwan, dalam hal ini mahasiswa atau orang-orang yang ada di dalam NTUST dan kebetulan melintasi stan, untuk mencoba mengenakan pakaian-pakaian muslim, lalu diambil fotonya, kemudian masing-masing dari mereka juga akan mendapatkan nama arabnya, dan terakhir mereka mendapatkan kurma gratis. Ide yang sederhana dan tidak butuh banyak penjelasan mendalam. Jelas kami tidak bicara Islam.

Sekalipun demikian, tetap saja hal ini menjadi sulit. Tidak, saya dan teman-teman tidak bicara Islam. Tapi, tanggapan orang-orang mulanya dingin, seolah menghiraukan tawaran-tawaran kami. Tidak ada yang tertarik. Banyak yang akhirnya tersedot ke stan sebelah kami yang memang lebih menjual dan lebih menarik. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami di sana. Lantas apa yang bisa diperbuat selanjutnya?

Salah seorang kawan kemudian sempat mengingatkan, “Jangan lupa untuk tersenyum, itu hal yang penting.”

“Senyuman?” pikir saya yang sedang berdiri dan mengamati banyak orang lalu lalang.

Ya, senyuman, sebuah proses sederhana yang konon bisa menjadi terapi untuk menghilangkan stress. Para peneliti membuktikan bahwa tersenyum bisa menurunkan tingkat stress, sekali tersenyum, otot-otot di sekitar wajah menjadi lebih kencang, yang akhirnya mampu mengurangi tingkat ketegangan di wajah. Efeknya, seseorang akan lebih segar, lebih rileks, beban pikiran bisa berkurang.

Apa yang anda lakukan ketika ada orang asing datang menghampiri anda, lalu menyunggingkan senyumannya? Tentu jawabannya bisa bermacam-macam, akan tetapi minimal anda akan ikut tersenyum. Ya, tersenyum adalah bahasa yang universal, tidak peduli kita berasal dari negeri, ras, atau suku tertentu. Kita bisa merasakan kehangatan orang lain manakala ada proses saling mengerti dan memahami. Dan senyuman adalah sebuah proses awalan yang dahsyat untuk bisa sampai ke tahap itu. Senyuman berdampak dahsyat!

Benar saja, yang terjadi kemudian, ketika kami di acara itu coba tersenyum sepenuh hati, sedikit demi sedikit orang-orang lokal mulai berdatangan ke stan kami. Mereka pun sibuk memakai pakaian muslim yang ada di sana. Bahkan saat waktu-waktu puncak, yaitu di saat jam istirahat makan siang, orang-orang sampai mengantri.

Ada keceriaan di wajah orang-orang lokal yang datang ke stan kami, dan saya harap keceriaan itulah yang juga dapat menghantarkan mereka semua ke hadapan gerbang hidayah. Ya, hidayah adalah sesuatu diluar kemampuan manusia, itu mutlak milik Allah swt.

Benarlah sabda Nabi saw., “Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu,  walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain,” dan juga sabdanya yang lain, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.

Bagaimana agar kita ingin orang lain menanggapi kita, sementara kita tidak memberikan tanggapan positif? Senyuman adalah tanggapan yang positif. Senyuman adalah sesuatu yang sederhana. Ia bisa menimbulkan perasaan tenang, tenteram dan nyaman. Semakin tulus senyuman seseorang, maka ini akan membuatnya mampu meredam dan melunakkan hati orang lain di sekitarnya. Inilah mengapa Nabi menganjurkan untuk tersenyum dan bermuka cerah pada orang lain. Ya, dakwah Islam itu hakikatnya sesederhana tersenyum. Berjuta kebaikan dan manfaat yang akan muncul dibalik itu, yang boleh jadi akan semakin menebalkan keimanan atau bahkan memberi jalan hidayah.

Hari semakin sore, mendekati ditutupnya acara dan stan pun siap-siap segera dibereskan kembali. Keceriaan orang-orang yang hadir di sana, baik orang lokal yang datang ke stan kami, hingga seorang wanita Austria yang mencoba mengenakan hijab, akan terus kami ingat. Ya, senyuman adalah awal yang bijak untuk segala sesuatu yang baik. Dan mudah-mudahan ini bisa menjadi pembuka lembaran dakwah di kampus NTUST pada khususnya, dan bumi Formosa pada umumnya.

Beberapa kalimat dari seorang intelektual Muslim, Dr. Aidh al-Qarni, mungkin dirasa cocok untuk menutup rangkaian tulisan ini. Berikut petikan kata-kata beliau:

“Bagaimana seorang muslim tidak tersenyum sementara dia telah meridhoi Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Saw. Adalah nabinya? Bagaimana ia tidak tersenyum sementara baginya telah ditumbuhkan taman-taman yang menyenangkan, dan kebun yang hijau, yang padanya terdapat pohon-pohon yang indah menyegarkan, dan tetumbuhan yang penuh keindahan. Bagaimana ia tidak tersenyum sementara Allah telah mengadakan baginya bintang-bintang yang terang, lautan yang luas, tanah yang berkelok-kelok, dan planet-planet yang berputar di porosnya?

Bagaimana ia tidak tersenyum, sementara burung-burung bernyanyi, merpati berdendang, matahari bersinar, bulan bercahaya indah, pagi hari yang datang dalam terang cahaya, dan hujan yang datang dibalik awan di langit? Bagaimana ia tidak tersenyum, sementara angin sepoi bertiup, daun-daun gemerisik, burung kenari bersiul, aroma indah bertiup, air jatuh di antara bebatuan mendendangkan lagu cinta, dan menceritakan pagar keindahan?”  -Dr. Aidh al-Qarny-  (Iman Adipurnama/Sekjen FORMMIT Utaratu)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: