utaratu

Home » Taushiyah » Kajian Jumat Malam (KAMAL) » Memaafkan, Sifat Terpuji

Memaafkan, Sifat Terpuji


TAIPEI, FORMMIT UTARATU – Reportase KAMAL (Kajian Jumat Malam) edisi 8 Juni 2012

Ba’da Tahmid dan shalawat…

Kata maaf sangatlah akrab dengan kehidupan kita. Memaafkan, mudah terucap namun sulit direalisasikan. Untuk membuka persoalan mengenai maaf dan memaafkan ini, mari kita simak firman Allah,

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. 2 : 263)

Perkataan yang baik memiliki maksud menolak dengan cara yang baik, dan pemberian maaf memiliki maksud memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari si penerima.

dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (QS. 42 : 37)

Bersabar dan memberi maaf lebih baik daripada mengambil pembalasan.Dari beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa memaafkan merupakan suatu perlakuan dan pencerminan maaf seseorang terhadap kesalahan orang lain tulus dan ikhlas tanpa ada perasaan paksaan atau terpaksa dari lubuk hatinya.

Ada juga beberapa hal tentang betapa positifnya nilai dari sebuah kata “maaf”, di antaranya:

Mengurangi Stress

Penelitian menemukan dendam yang selalu disimpan secara mental dapat membuat tekanan yang dapat menyebabkan stress. Tubuh pun bereaksi. Otot-otot menegang, tekanan darah meningkat, dan keringat berlebihan. Dengan memaafkan, maka secara otomatis akan dapat mengurangi stress.

Kesehatan Jantung Membaik

Sebuah studi menemukan hubungan antara memaafkan seseorang yang telah berkhianat  dengan perbaikan tekanan darah dan detak jantung. Semakin rendah tingkat amarah yang dipendam maka akan bertambah baik pula fungsi kerja jantung.

Mengurangi Rasa Sakit

Sebuah studi juga menunjukkan bahwa orang yang mengalami penyakit punggung kronis yang berlatih meditasi pengendalian amarah ternyata efektif untuk mengurangi rasa sakit dan rasa tegang dibandingkan dengan terapi kesehatan biasa. Amarah pada dasarnya adalah sesuatu yang dapat menyebabkan seseorang berbuat negatif dan mengganggu kesehatan.

Lebih Bahagia

Ketika memaafkan seseorang, maka kita akan menemukan diri kita lebih bahagia. Sebuah survei pernah dilakukan untuk mempertanggungjawabkan opini di atas. Survei itu menunjukkan orang yang membicarakan tentang maaf-memaafkan selama sesi psikoterapi lebih menghasilkan perasaan bahagia dibanding mereka yang tidak.

Sejarah juga telah memperlihatkan kepada kita bagaimana Islam begitu teliti dalam menata hubungan-hubungan yang ada, baik itu terhadap Allah, manusia lain ataupun alam raya, termasuk juga mengenai masalah mengontrol sikap, karakter dan tingkah laku. Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat hadits melarang seseorang marah kecuali untuk beberapa hal yang memang diizinkan untuk marah.

Beberapa penelitian terkini menemukan bahwa makanan yang kita makan akan menyebabkan kadar asam di dalam tubuh kita meningkat dan ini akan memicu timbulnya berbagai penyakit. Begitu juga dengan faktor emosi, ketidakstabilan emosi juga dapat menyebabkan kadar keasaman tubuh kita meningkat.

Artinya, Islam sangat menjaga betul apa-apa yang masuk ke dalam tubuh seorang mukmin, baik itu asupan fisik maupun asupan ruhani. Dengan menjaga kondisi batin kita agar tetap tenang dan jernih, kita juga akan merasa lebih sehat dan bugar. Salah satu cara menjaga kondisi batin adalah dengan sikap memaafkan.

Memaafkan adalah sebuah perkara yang susah-susah gampang. Tanda-tanda ikhlas memaafkan itu seperti apa? Kadang ketika kita punya sekelumit persoalan, entah dendam atau apa, terhadap seseorang, kita begitu susah sekali untuk melupakannya. Mungkin kita bisa memaafkan dalam ucapan tapi hati tidak lantas bisa menerimanya.

Bahkan Rasulullah saw. dalam sebuah riwayat juga diceritakan bagaimana beliau menunjukkan sisi manusiawinya. Ketika banyak orang berbondong-bondong masuk Islam di saat peristiwa Fathu Makkah. Ada seorang berkulit hitam, Wahsyi namanya, dulu ia merupakan budak dari Hindun, dan di Perang Uhud, ia juga yang telah membunuh paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthallib.

Ketika melihat wajah Wahsyi, bayangan dari pamanda tercinta tidak bisa lepas dari pikiran Rasulullah saw. Oleh karena itu, Wahsyi berazam, “Saya telah membunuh manusia terbaik, maka nanti saya yang akan membunuh manusia terjahat dengan tombak saya ini.”

Terbukti, di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Wahsyi-lah yang membunuh Musalaimah, si Nabi palsu dengan tombak Afrika andalannya. Wahsyi sendiri sadar betul, semasa Rasulullah masih hidup, ia tidak ingin baginda Rasul melihat wajahnya. Wahsyi selalu berusaha untuk duduk di belakang orang-orang agar tidak terlihat langsung oleh beliau.

Gambaran sikap manusiawi dari seorang Rasulullah adalah sebuah kewajaran, sebab beliau juga manusia. Namun sikap beliau tentu tidak akan lepas dari aturan dan syari’at yang berlaku. Beliau tidak lantas dendam terhadap pribadi dari Wahsyi. Persoalan yang ada adalah memori beliau tentang pamanda tercinta yang sulit untuk dihapus. Dan inilah sisi manusiawi yang dimaksud. (Iman Adipurnama/Sekjen FORMMIT Utaratu)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: