utaratu

Home » Taushiyah » Kajian Jumat Malam (KAMAL) » Keutamaan Shalat

Keutamaan Shalat


TAIPEI, FORMMIT UTARATU – Kajian Jumat Malam (KAMAL) edisi 1 Juni 2012

Video : KAMAL Edisi 1 Juni 2012

Ba’da tahmid dan shalawat.

Berdasarkan kitab Riyadush-shalihin karya Imam Nawawi, ada beberapa ayat, hadits dan pelajaran-pelajaran darinya yang bisa kita ambil berkenaan dengan tema keutamaan shalat.

“Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari keburukan dan kemunkaran.” (Al-‘Ankabut: 45)

Hadits-hadits:

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Adakah engkau semua mengetahui, andaikata pada pintu seseorang di antara engkau semua itu ada sebuah sungai dan ia mandi di situ sebanyak lima kali dalam sehari, apakah masih ada kotoran sekalipun sedikit yang tertinggal di badannya?” Para sahabat rnenjawab: “Tidak ada kotoran sedikitpun yang tertinggal di badan nya.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengan mengerjakan semua itu Allah akan meng- hapuskan semua kesalahan.”

Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu itu adalah seumpama sebuah sungai yang mengalir, banyak airnya yang ada di pintu seseorang di antara engkau semua. la mandi di situ setiap hari lima kali.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang memberikan ciuman pada seseorang wanita – lain, lalu ia men-datangi Nabi s.a.w. kemudian memberitahukannya akan halnya. Kemudian AllahTa’ala menurunkan ayat-yang artinya: “Dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan beberapa saat dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu dapat melenyapkan kejele-kan-kejelekan.” Orang tadi lalu berkata: “Adakah ayat itu untuk saya saja?” Beliau s.a.w. bersabda: “Untuk seluruh ummatku.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari uraian di atas ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, bahwa, pertama mengenai keutamaan shalat lima waktu, diantaranya dihapuskannya dosa-dosa kecil. Sementara untuk dosa-dosa besar dapat dihapuskan dengan cara taubat. Kemudian pelajaran penting lainnya adalah bahwa Rasulullah memberi pelajaran kepada para sahabat dengan perumpamaan agar mudah dipahami. Kemudian pelajaran lain selain mengenai masalah keutamaan adalah bahwa berjabat tangan dengan wanita yg bukan mahram, itu perbuatan dosa.

Renungan: Apakah dengan adanya hadis ini, tentang terhapusnya dosa-dosa kecil, lantas kita bisa melakukan dosa-dosa lagi setelah salat?

Keutamaan Shalat Berjamaah

Tema yang berikutnya ingin diangkat adalah mengenai keutamaan shalat berjamaah. Apa saja keutamaan-keutamaannya?

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya kasulullah s.a.w. bersabda: “Shalat jamaah adalah lebih utama dari shalat fadz – yakni sendirian -dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Shalatnya seseorang lelaki dalam jamaah itu dilipat gandakan pahalanya melebihi shalatnya di rumahnya secara sendirian -munfarid – atau di pasarnya dengan duapuluh lima kali lipatnya. Yang sedemikian itu ialah karena bahwasanya apabila seseorang itu berwudhu’ lalu memperbaguskan cara wudhu’nya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu melainkan karena hendak bersembahyang, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya sederajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia bersembahyang, maka para malaikat itu senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperoleh kerahmatan Allah, selama masih tetap berada di tempat shalatnya, juga selama ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu iaiah: “Ya Allah, berikanlah kerahmatan pada orang itu; ya Allah, belas-kasihanilah ia.” Orang tersebut dianggap berada dalam shalat, selama ia menantikan shalat – jamaah.”(Muttafaq ‘alaih)

Tentang berlipat gandanya ganjaran shalat berjamaah. Apakah pahala shalat berjamaah ini didapatkan di mesjid atau di tempat selain mesjid? Ada beberapa silang pendapat antara para ulama.

Selain keutamaan dalam nilai pahala, ada hal-hal yang bisa kita tarik untuk jadi pelajaran, diantaranya, menyempurnakan wudhu memiliki keutamaan serta shalat yang kita niatkan seyogianya hanya untuk ridha Allah bukan untuk yang lain.

Pertanyaan dan diskusi:

Pertanyaan : Shalat jamaah lebih utama dari salat sendiri. Sementara ada juga yang menyebutkan mengenai keutamaan shalat di awal waktu. Lebih utama mana, shalat jamaah tapi tidak di awal waktu atau salat sendiri tapi di awal waktu?

Jawaban : Ada riwayat dari Nabi yang menceritakan bahwa Nabi mengakhirkan shalat Isya karena masih ada beberapa permasalahan umat yang dibahas. Ini berkaitan dengan kesepakatan antara Imam dan jamaah mengenai pelaksanaan shalat.

Pertanyaan : Bagi muslim laki-laki, ketika mendengar adzan, wajib baginya untuk melaksanakan shalat jamaah di masjid. Ada yang beranggapan imam bagi keluarga, lalu malah tidak berangkat ke masjid, jadi masjid itu fungsinya untuk apa dibangun?

Jawaban : Untuk persoalan shalat di awal waktu memang ada keutamaan tersendiri. Ada juga memang yang meriwayatkan untuk diakhirkan. Sebagai contoh, di Masjidil Haram, shalat Isya itu dilaksanakan pada pukul sembilan malam, tidak di awal waktu. Sementara di negara-negara maghribi, seperti Maroko, Tunisia, dan Libya, ada kerja sama dengan pemerintah dalam hal pelaksanaan shalat dzuhur berjamaah, sehingga seluruh pekerja dan pegawai negeri dapat melaksanakannya secara berjamaah.

Satu hal lagi bahwa hak adzan itu di tangan muadzin, sementara hak iqamah itu ada di tangan Imam. Seperti yang mungkin dicontohkan di beberapa pondok di Indonesia. Jadi sebetulnya kapan shalat itu akan dimulai boleh jadi bergantung Imam di masjid yang bersangkutan.

Pertanyaan : Bagaimana dengan pahala yang dilipatgandakan dua puluh tujuh? Apa harus di masjid?

Jawaban : Sesuai dengan redaksi-redaksi hadits di atas maka shalat berjamaah menjadi wajib dilaksanakan di masjid ketika seorang muslim mendengarkan adzan kecuali ia terkena udzur, seperti ketiduran atau sakit yang tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Bagaimana dengan alasan “mengimami anak istri” di rumah? Untuk istri, lebih baik memang shalat di rumah karena memang ada redaksi hadits yang mengatakan demikian, boleh berjamaah di masjid, selama tidak menimbulkan fitnah di masyarakat. Sekalipun istri shalat di rumah, pahalanya tetap mendapatkan yang dua puluh tujuh. Insya Allah.

Pertanyaan : Shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar itu bagaimana? Sebelum dan setelah shalat, mengapa tidak nampak perubahan, dosa-dosa yang dilakukan terus berulang?

Jawaban : Jika dosa kecil bertumpuk, lama kelamaan akan terus membesar. Jadi sebisa mungkin dosa-dosa itu dihindari dan selalu bertaubat, karena kita tidak tahu kapan ajal akan datang. Dosa yang satu itu akan diikuti dengan dosa lainnya, sementara kebaikan yang satu akan diikuti dengan kebaikan lainnya. Jadi mungkin disini pentingnya untuk membangun karakter dan melakukan pembiasaan yang baik.

Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. Dosa kecil itu insya Allah bisa dihilangkan dengan membaca istighfar dan melakukan amal shalih. Sedangkan dosa besar akan bisa hilang dengan taubat. Jadi istighfar dan taubat harus dibedakan.

Persoalan “mencegah perbuatan keji dan mungkar” jangan lantas kemudian disalahkan Islamnya. Harusnya ini menjadi bahan renungan, “sudahkah seseorang memahami tentang shalatnya?” Kalau yang ia pahami tentang shalat adalah hanya sebatas rutinitas saja, maka ini akan berdampak pada kehidupannya secara keseluruhan. Jadi seseorang harus memahami dari mulai gerakan shalat, syarat sah dan rukun-rukun shalat, sehingga ia bisa mengambil manfaatnya. (Iman Adipurnama/Sekjen FORMMIT Utaratu)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: