utaratu

Home » Taushiyah » Kisah Abdullah bin Ubay (1)

Kisah Abdullah bin Ubay (1)


Rekz, pernahkah kita mengamati rangkaian peristiwa seperti ini:

  • Seseorang dengan berbekal sifat kritis, menyindir pekerjaan mulia orang lain lewat kata dan tulisan, padahal orang itu sendiri tidak mau melakukan pekerjaan yang mulia itu? (QS Al-Ahzaab : 19)
  •  Sindiran yang disampaikan pun diberikan dengan tutur kata yang manis, pilihan kalimat yang aduhai, sehingga membuat orang yang mendengarnya menjadi bimbang? (QS Al-An’am : 112)
  • Kalopun kemudian terbukti bahwa sindiran yang diberikan salah sasaran atau kurang tepat, maka seseorang itu dengan pandainya membuat alasan-alasan? (QS At-Taubah : 49)
  • Bahkan tidak kepalang tanggung, meskipun sudah ketahuan sindirannya tidak benar, seseorang itu nekat membenarkan perbuatan kritisnya dengan sumpah palsu? (QS An-Nisaa’ : 62)

Adakah kita menjumpai hal itu pada diri kita atau orang-orang di sekitar kita?

Yuk mari kita buka kembali lembaran Sirah Nabawiyah, melihat rangkaian peritiwa serupa yang dialami oleh Nabi Muhammad saw[1] dalam perjalanan hidupnya.

Di awal permulaan Hijrah, tatkala Rasulullah SAW menunggang himar untuk menjenguk Sa’d bin Ubadah, beliau melewati kerumunan orang yang di situ ada Abdullah bin Ubay, yang sedang menutup lubang hidungnya sambil berkata: ”Janganlah kalian mengepul-ngepulkan debu yang mengenai kami.” Dia berkata seperti itu untuk menyindir beliau agar turun dari himarnya. Maka beliau turun dan ikut bergabung bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an. Namun Abdullah bin Ubay berkata: ”Duduk saja di rumahmu dan jangan mengganggu majlis kami.” Peristiwa ini terjadi sebelum Abdullah bin Ubay masuk Islam.

Setelah dia pura-pura masuk Islam, setiap Jum’at Abdullah bin Ubay berkata menjelang Rasulullah saw berkhutbah, ”Inilah Rasulullah SAW di tengah kalian, orang yang telah dimuliakan Allah dan diagungkan-Nya. Maka tolonglah, dukunglah, dengarkan dan patuhilah dia!” Setelah dia duduk, Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah.

Setelah perang Uhud dan setelah Abdullah bin Ubay berkhianat serta berbuat makar dalam peperangan itu, seperti biasanya dia bangkit dari duduknya dan mengulang lagi perkataannya sebelum Jum’at. Orang-orang muslim di sekitarnya menarik-narik bajunya sambil berkata, ”Duduklah wahai musuh Allah. Engkau tidak pantas berbuat seperti itu. Engkau telah berbuat seperti yang biasa engkau perbuat.”

Lalu dia keluar sambil melangkahi pundak orang-orang sambil berkata, ”Demi Allah, seakan-akan aku telah mengucapkan perkataan yang jahat dan aku harus pergi karena telah mempersulit urusannya.” Di ambang pintu dia dihadang seorang Anshar. Katanya, ”Celaka kamu. Kembalilah! Rasulullah SAW akan memintakan ampunan bagi dosa-dosamu.” Abdullah bin Ubay berkata, ”Demi Allah, aku tidak perlu dia memohonkan ampunan bagi dosa-dosaku.”

Subhanallah, sirah Nabawiyah memaparkan rangkaian peristiwa yang serupa dengan empat contoh kejadian di awal. Yakni sikap Abdullah bin Ubay kepada Rasulullah yang Menyindir padahal tak mau diajak, Memuji padahal benci, Beralasan meskipun telah diingatkan, dan Bersumpah meskipun keliru. Sejarah selalu berulang kembali.

Jika ternyata kita menjumpai rangkaian peristiwa itu pada diri kita, seyogyanya kita perlu lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Mengingat segala kekurangan dan aib diri yang begitu banyak. Kemudian mengingat begitu besar dan berkuasanya Allah swt terhadap diri yang lemah ini. Sehingga dengan demikian, hati ini tidak semakin mengeras dan terperosok semakin dalam.

Rangkaian peristiwa di atas mengingatkan pula, jika kita tak bisa menahan diri, terus berpura-pura dan merasa paling benar sendiri seperti Abdullah bin Ubay. Maka jangan dikira orang-orang di sekitar kita acuh tak acuh. Mereka, yang tampaknya diam seribu bahasa, akan terus memohon dalam tiap sujud dan shalatnya. Mendoakan semoga kebaikan selalu ada pada diri kita dan semua orang.

Mereka berharap tidak perlu sampai mengingatkan diri kita, sebagaimana Abdullah bin Ubay diingatkan dengan ”menarik-narik bajunya di saat shalat Jumat.” Karena jika demikian yang terjadi, maka semakin sulit kita keluar dari keterperosokan rasa sombong. Yang tampaknya mulia, namun sejatinya penuh dusta. Di tulisan berikutnya kita akan lihat lembaran lain dari Sirah Nabawiyah, yang menceritakan bagaimana Rasulullah SAW menyikapi tindak tanduk Abdullah bin Ubay.


[1] Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury

dari milis FORMMIT Utaratu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: