utaratu

Home » Event » Kajian Spesial Ramadhan 1

Kajian Spesial Ramadhan 1


Taipei, 10 Agustus 2011

Pengajian spesial bulan Ramadhan yang berlangsung di basement dorm 3 NTUST menghadirkan Seorang penulis blog indonesiaoptimis.com dan juga pengajar UNS, Ust. Hatta. Pengajian ini rencananya akan diadakan tiap pekan oleh FORMMIT, dengan tujuan selain untuk mengcharge hati, juga untuk menjaga silaturrahmi.

Diawali dengan sebuah cerita pendek dari pak Ustadz..

—–Alkisah, ada seorang businessmen yang mempunyai seorang satpam, pada suatu hari si pak satpam menghadap ke si bos, kira kira begini percakapan mereka

Satpam : Pak, maaf, saya bermimpi pesawat yang akan bapak tumpangi jatuh

Si Bos : ummm..

Si bospun membatalkan perjalanannya, entah karena apa. Dan keesokan harinya pesawat tersebut benar benar jatuh.. Kemudian si bos menyuruh si pak Satpam supaya menghadap..

Apa yang dilakukan si bos?

Dia memanggil pak satpam tersebut dan memberinya hadiah berupa uang yang banyak sekalii.. dan meminta agar pak Satpam itu meninggalkan pekerjaanya.. dan mencari pekerjaan lain

Kenapa????

Ternyata uang itu adalah uang yang biasa kita sebut “pesangon”, bukan uang sebagai hadiah karena pak Satpam bisa menerawang apa yang akan terjadi (mana mungkin??^^ )

Apa yang ada dipikiran si bos cukup sederhana. Kalau satpam itu sampai bermimpi, itu artinya dia tidak melakukan tugasnya dengan baik, yaitu tertidur ketika harus bertugas—-

Intisari yang bisa kita ambil dari kisah singkat nan sederhana itu adalah tiap kita punya tugas utama, namun kita terkadang sering lalai akan tugas utama kita.

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Termasuk keberadaan kita disini, Tholabul ‘Ilmi, yang juga merupakan bentuk dari Ibadah.

Dalam menuntut Ilmu banyak sekali godaan yang kita hadapi. Harta, merupakan suatu godaan yang sering menggeser Ilmu. Kalau kita renungkan, banyak sekali contoh dan kejadian yang sudah terjadi. Banyak harta malas menuntut ilmu, atau bahkan menuntut Ilmu karena ingin memiliki harta atau sekedar gelar. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Allahumma Amiin.

Semoga kita senantiasa bisa adil dalam menempatkan ilmu dan harta, karena diantara dua hal tersebut terdapat godaan yang besar. Ada dua hadist yang bisa kita jadikan renungan dalam perjalanan kita menuntut ilmu.

Yang pertama

“Perumpamaan umat ini bagaikan empat orang, yaitu: Seseorang yang Allah berikan kepadanya harta dan ilmu, lalu ia berbuat terhadap hartanya itu sesuai dengan ilmu-nya; dan seseorang yang Allah berikan kepadanya ilmu tanpa memberinya harta, lalu ia berkata: ‘Wahai Tuhanku seandainya aku memiliki harta sebagaimana yang dimiliki Fulan maka aku pasti akan berbuat terhadap harta itu sebagaimana yang ia lakukan pada hartanya’, kedua orang itu akan mendapatkan ganjaran pahala yang sama. (Orang kedua ini berkehendak agar ia dapat memiliki harta sebagaimana orang yang pertama agar dapat berbuat seperti apa yang diperbuat orang pertama tanpa adanya keinginan hilangnya kenikmatan yang ada pada orang pertama); dan seseorang yang Allah berikan kepadanya harta tanpa memberinya ilmu, maka ia menggunakan harta itu untuk melakukan perbuatan maksiat pada Allah, serta seseorang yang Allah tidak memberi kepadanya ilmu juga tidak memberi kepadanya harta, lalu ia berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta seperti yang dimiliki Fulan, maka aku pasti akan menggunakan harta itu sebagaimana yang dilakukan Fulan dalam melakukan maksiat’, kedua orang ini mendapat ganjaran dosa yang sama”. (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Rasulullah SAW bersabda bahwa dua golongan pertama tersebut memiliki pahala yang sama, sedangkan dua golongan terakhir, dalam masalah dosa mereka sama.

Intisari yang bisa kita ambil dari sini adalah Harta baru bermanfaat ketika dilandasi dengan Ilmu, seperti sabda Rasulullah SAW : “Sebaik-baik harta adalah yang dimiliki oleh orang-orang yang shalih.”

Dalam Al Qur’an surat An-Nisa’ : 5 Allah juga sudah menegaskan

“Janganlah kamu berikan kepada orang-orang bodoh harta hartamu yang telah dijadikan Allah sebagai tiang kehidupan.”

Yang kedua

“Tidak (boleh) ada kedengkian kecuali pada dua hal. Pertama, orang yang dikaruniai Allah ilmu pengetahuan kemudian ia menyebarluaskan dan mengajarkan kepada orang lain. Kedua, orang yang dikaruniai Allah harta kemudian ia menafkahkannya dalam kebenaran” (HR Bukhari dan Muslim).

Begitulah Allah telah mengatur semuanya, tapi bukan berarti kita tidak boleh mempunyai keinginan menjadi orang yang kaya. Ingin kaya juga termasuk syar’i asal semua itu kita landasi dengan ilmu.

Dalam menuntut ilmu hal yang harus diperhatikan adalah niatnya, jangan sampai kita salah niat dalam menuntut ilmu, ada sebuah kisah yang diambil dari ilustrasi sebuah hadist. Seorang ulama, pengajar Alquran, dan pencerah umat. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa saya mencari ilmu dan mengajarkannya. Saya juga mengajarkan Alquran. Lalu dikatakan kepadanya, Kamu dusta! Kamu mencari dan mengajarkan ilmu dengan niat supaya dikatakan alim, dan orang-orang percaya itu. Apa yang terjadi? Ia pun diperlakukan sama, diseret dan dicampakkan ke dalam neraka. Naudzubillah..

Dan yang penting dari ilmu adalah aplikasi dari ilmu tersebut. Bagaimana Ilmu itu bisa bermanfaat tidak untuk kita sendiri tetapi juga orang disekitar. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,”barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lantas dia menyembunyikannya maka dia akan dikekang dengan tali kekang dari neraka”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: